Salah satu masjid tertua di kota Medan yang sampai saat ini masih berdiri adalah Masjid Bengkok. Masjid yang berada di Jl. Masjid atau sekarang lebih dikenal dengan Gang Bengkok ini memang memiliki keunikan sendiri, bagaimana tidak, umumnya sebuah masjid memiliki nama arab, seperti misalnya Masjid Raya Al Mashun, yang merupakan salah satu masjid terbesar di Medan, Masjid An-Nur, Masjid Al-Furqan, Masjid Darul Islam, dan lain-lain. Namun khusus Masjid Bengkok, tidak memiliki nama arab, namanya ya tetap Masjid Bengkok.

Keistimewaan lain adalah masjid ini bergaya arsitektur Tionghoa dan Melayu, baik interior maupun eksteriornya, karena memang masjid ini didirikan oleh salah satu tokoh Tionghoa yang terkenal dan kaya di Medan. Beliau adalah Tjong A Fie. Ketenaran beliau sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, beliau adalah pengusaha kaya yang mewakafkan sebagian tanahnya untuk kepentingan umat beragama, khususnya Islam. Diperkirakan pada tahun 1885, masjid ini selesai dibangun. Semua biaya pembangunan masjid ditanggung oleh Tjong A Fie. Adapun dinamakan Masjid Bengkok karena dulu, masjid ini penuh sesak dengan orang yang melaksanakan ibadah, hingga barisan mereka berada di luar masjid di sebuah gang yang bengkok, makanya dikasih nama Masjid Bengkok. Warna kuning dan hijau, menjadi warna dominan masjid ini.

Gaya arsitek Tionghoa terlihat saat anda memasuki masjid Bengkok, warna kuning yang khas, serta beberapa ukiran dan bentuk hiasan dinding yang kontras membuat masjid ini hampir mirip klenteng, tapi ini tetap masjid. Di dalam masjid terdapat sebuah mimbar, yang mirip dengan mimbar yang ada di dalam Masjid Raya Al Mashun. Di atap mimbar terdapat sebuah kubah kecil berwarna kuning emas, dan di puncaknya terdapat lambang bulan sabit. Dinding-dinding penyangga masjid juga dihiasi dengan keramik putih yang berkilau khas Tionghoa. Ornamen dinding di masjid ini juga hampir mirip dengan ornamen yang ada di rumah Tjong A Fie di kawasan Kesawan.

Mungkin saat ini kawasan Kesawan lebih dikenal dengan sebutan Jl. Jend. Ahmad Yani, karena kawasan tersebut memang dimiliki oleh Datuk Mohammad Ali Kesawan. Setelah beliau wafat, nama Kesawan mulai diganti dengan Jl. Jend. Ahmad Yani karena memang kawasan tersebut dilewati Jl. Jend. Ahmad Yani. Areal masjid ini cukup luas, baik tempat parkirnya maupun luas bangunannya sendiri. Masjid Bengkok memang tak pernah sepi, saat hari-hari biasa pun banyak masyarakat sekitar yang beribadah di situ. Apalagi saat hari-hari besar Islam, masjid ini penuh sesak.

Masjid ini selain sebagai tempat beribadah, juga sering dijadikan obyek wisata di kota Medan karena gaya arsitek bangunannya dan sejarah yang mengiringi berdirinya Masjid Bengkok ini. Jika anda seorang muslim, sempatkanlah mengunjungi salah satu masjid tertua di Medan ini untuk beribadah atau sekedar melihat keindahan gaya arsiteknya.

Cara menuju lokasi : dari Lapangan Merdeka, anda dapat berjalan kaki karena jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 400 meter, atau naik betor turun di depan Sate Bata dengan tarif sekitar Rp. 3000 hingga Rp. 5000.

Hotel sekitar lokasi : Grand Aston City Hall Hotel, Hermes Place Hotel

Komitmen kami untuk memberikan informasi, tips, dan panduan wisata untuk Anda sekalian, Namun demikian pemeliharaan website ini tidaklah murah, maka apabila Anda memesan hotel silahkan klik link hotel yang ada di halaman ini untuk membantu kami terus dapat memberikan informasi serta panduan wisata yang lebih menarik lagi. Dan juga sarankan kami di twitter dan facebook.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,